sapaan

ASSALAMMUALLAIKUM

SELAMAT MENIKMATI

Jumat, 18 November 2011

OPT JAGUNG



A.    HAMA
Ciri-ciri dari hama ulat penggerek batang jagung (Ostrinia vurnacalis) adalah mata, mulut, caput, thorax, abdomen, kaki semu, dan kaki thoraksial. Pada keadaan larva/ulat, ordo Lepidoptera memiliki kepala kapsul yang keras, mulut pengunyah, dan tubuh lembut  dan sebagian mungkin punya rambut sebagai proyeksi, 3 pasang kaki sejati/kaki thorax, dan kaki semu (sampai 5 pasang). Kebanyakan ulat adalah herbivora, namun beberapa adalah karnivora (beberapa makan semut atau ulat lainnya) (Harris, 2002).
Beberapa cara pengendalian hama ulat penggerek adalah (Endro, 2008):
1. Cara bercocok tanam       : dengan cara pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan merupakan inangnya.
2. Sanitasi                             : tanaman yang terserang dipotong dan ditimbun dalam tanah atau diberikan pada hewan ternak dan menghilangkan tanaman inang yang lain yang tumbuh diantara dua waktu tanam.
3. Membersihkan rumput-rumputan
4. Cara kimiawi                    : beberapa jenis insektisida yang dinyatakan efektif adalah: Azodrin 15 WSC, Nogos 50 EC, Hostation 40 EC, Karvos 20 EC. Pengendalian dilakukan sebelum ulat masuk ke dalam batang.
Locuita migrotoria Manilensis adalah nama lain dari belalang yang dikenal masyarakat sebagai belalang perusak, belalang pengembara, belalang hantu. Disebut belalang perusak karena setiap kali   selalu meninggalkan kerusakan-kerusakan tanaman milik masyarakat. Juga dikenal dengan belalang pengembara dikarenakan daya jelajah yang cukup jauh, satu hari dapat menempuh jarak puluhan kilo meter (Ardi, 2010).
Keberhasilan peningkatan produksi pertanian, termasuk tanaman jagung, diantaranya ditentukan oleh keberhasilan tindakan pengendalian hama. Sebab antara hama dan tanaman terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Penekanan populasi hama atau pengendalian hama yang sering dilakukan di Indonesia masih mengandalkan penggunaan pestisida. Demikian pula tanaman pangan, seperti jagung, masih mengandalkan pestisida. Penggunaan pestisida dinilai berdampak negatif, karena akan membunuh musuh alami (predator atau parasit) hama, menyebabkan ledakan hama sekunder, munculnya jenis hama tertentu. Di samping dapat menyebabkan resurgensi, yaitu bila suatu jenis hama setelah memperoleh pestisida berkembang lebih banyak dibanding dengan yang tanpa perlakuan pestisida (Efunt, 2010).
Serangan ulat grayak biasanya relatif cepat, serentak dan dalam areal yang cukup luas. Oleh karena itu apabila pelaksanaan program pemantauan kebun tidak rutin, maka tidak mustahil kerusakan dan kerugian akibat ulat grayak ini akan sangat besar. Gejala tanaman terserang hama ulat grayak mirip akibat serangan hama belalang. Daun-daun digerek ulat dari arah tepi daun menuju tulang daun. Pada serangan berat, daun tebu tinggal tulang-tulang daunnya saja (Pramono, 2009).
Ulat grayak Spodoptera litura L. bersifat kosmopolitan antara lain terdapat di daerah tropis seperti Pakistan, Sri Lanka, Bangladesh dan Indonesia. Hama ini memiliki potensi besar dalam menurunkan produksi pertanian karena sifatnya polifag dan menyerang sejak dari pembibitan sampai menjelang panen. Ngengat meletakkan telur dibawah permukaan daun. Ngengat mampu bertelur 2000-3000 butir tiap induk dengan masa bertelur 2-6 hari. Masa inkubasi telur sekitar 3-4 hari. Larva muda berwarna kehijauan dengan sisi samping berwarna hitam kecoklatan, sedang yang sudah mencapai pertumbuhan penuh berwarna hijau gelap dengan punggung berwarna gelap memanjang. Pada awalnya larva hidup secara berkelompok memakan daun setempat, beberapa hari setelah daun habis akan menjalar ketanaman lain. Setelah 15-20 hari larva mencapai dewasadan panjangnya sekitar 5 cm. larva menyukai tempat lembab dan pada siang hari berada dibawah permukaan tanah. selama perttumbuhannya larva berganti kulit 4-5 kali dan memerlukan waktu 12-19 hari (Hill, 1975).
Menurut Kalshoven (1981), S. litura dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kerajaan    :Animalia
Filum         :Arthropoda
Kelas         :Insecta
Suku          :Noctuidae
Bangsa                  :Lepidoptera
Marga        :Spodoptera
Jenis          : S. litura (ulat grayak) 
Serangga ini berkembang secara metamorfosis sempurna. Perkembangan S. litura terdiri dari empat stadia yaitu telur, larva, pupa, dan imago (Sofyan, 2010).
Hama ulat pemotong jagung mempunyai gejala: tanaman jagung yang terserang biasanya terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah yang ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman jagung yang masih muda itu roboh di atas tanah. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A. ipsilon); Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) bertanam secara serentak pada areal yang luas, bisa juga dilakukan pergiliran tanaman; (2) dengan mencari dan membunuh ulat-ulat tersebut yang biasanya terdapat di dalam tanah; (3) sebelum lahan ditanami jagung, disemprot terlebih dahulu dengan insektisida                     (Anonima, 2009).
Hemiptera adalah ordo dari serangga yang juga dikenal sebagai kepik. Memiliki ciri-ciri khusus seperti mulut berbentuk jarum dan tidak mengalami metamorfosis sempurna. Ciri khas utama serangga anggota Hemiptera adalah struktur mulutnya yang berbentuk seperti jarum. Mereka menggunakan struktur mulut ini untuk menusuk jaringan dari makannya dan kemudian menghisap cairan di dalamnya. Hemiptera tidak mengalami metamorfosis sempurna. Anakan serangga dari ordo Hemiptera yang baru menetas biasanya memiliki penampilan yang sama dengan induknya, namun ukuranya lebih kecil dan tidak besayap. Fase anakan ini dikenal dengan nama nimfa. Nimfa Hemiptera ini kemudian melakukan pergantian kulit berkali-kali hingga akhirnya menjadi dewasa tanpa melalui fase kepompong                       ( Anonima, 2010).
   Aphis maidis dalam kelompok yang besar mengisap cairan daun dan batang, akibatnya warna dan bentuk daun tidak normal yang pada akhirnya tanaman mongering. Kutu daun ini menghasilkan honeydew yang dikeluarkan melalui sersinya, sehingga membentuk embun jelaga berwarna hitam yang menutupi daun sehingga menghalangi proses fotosintesis.
Pengendalian dengan cara hayati hama Aphis maidis dan Lysiphlebus mirzai (Famili: Braconidae) adalah parasitoid, selain itu Coccinella sp. dan Micraspis sp. juga dapat dimanfaatkan sebagai predator (Mau, 1992).
Pengendalian secara kultur teknis adalah dengan cara menanam jagung secara polikultur karena akan meningkatkan predasi dari predator kutu daun dibandingkan dengan penanaman secara monokultur (Trujillo, 1990).
Secara kimiawi pengendalian kutu daun mudah dikendalikan dengan menggunakan insektisida kontak atau sistemik. Insektisida granular sering dipakai untuk mengendalikan hama ini pada tanaman serealia. Insektisida seperti malathion lebih disenangi karena lebih sedikit pengaruhnya terhadap populasi musuh alami (Ba Angood and Stewart, 1980).
   Penyemprotan insektisida yang tidak selektif diduga sebagai penyebab utama terjadinya ledakan lalat pengorok daun, karena musuh alami lalat ini sangat rentan terhadap insektisida (Johnson et al. 1980).
Selain itu, pengendalian dengan insektisida dapat mengakibatkan komplikasi pada biologi lalat pengorok daun, seperti mobilitas imago menjadi tinggi dan populasi telur dan larva yang terlindung dalam jaringan daun meningkat (Parrella, 1987).
Kerusakan yang disebabkan oleh Liriomyza sp. pada tanaman dibedakan menjadi dua, yakni kerusakan langsung dan tidak langsung. Kerusakan langsung disebabkan oleh perilaku makan larva. Aktivitas larva dapat menurunkan kapasitas fotosintesis tanaman (Trumble et al., 1985).
Kerusakan tersebut terjadi pada jaringan palisade daun saat larva membuat liang korokan serpentin. Serangan berat mengakibatkan desikasi dan pengguguran daun lebih dini (Baliadi, 2009).
Sampai saat ini di Indonesia diketahui ada 19 spesies parasiotid yang berasosiasi dengan L. sativae dan ada 6 spesies yang berasosiasi dengan L. huidobrensis (Warsito, 2004).
Efektivitas penggunaan musuh alami terhadap lalat pengorok daun berkisar antara 39−50% (Purnomo et al. 2003).
Ketidakefektifan insektisida karena larva lalat pengorok daun tinggal di dalam jaringan daun. Selain itu, juga dilaporkan bahwa L. huidobrensis toleran terhadap insektisida golongan organofosfat dan resisten terhadap golongan piretroid (McDonald, 1991).
Hingga saat ini belum diperoleh jenis insektisida yang efektif mengendalikan lalat pengorok daun. Petani sayuran tidak puas dengan hasil pengendalian yang telah dilakukan (Rauf et al., 2000). Oleh karena itu, masih terbuka peluang untuk mengkaji insektisida yang efektif untuk mengendalikan larva lalat pengorok daun yang terdapat di dalam liang korokan. Selain itu, perlu untuk mengkaji dinamika populasi musuh alami lalat pengorok daun pada pertanaman yang disemprot dan tidak disemprot insektisida.
B.     PENYAKIT
Aspergillus flavus adalah cendawan yang sering menyerang jagung, baik selama di lapangan maupun di tempat penyimpanan. Disamping dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan serta susut berat, pada kondisi yang sesuai A. Flavus dapat memproduksi aflatoksin. Aflatoksin merupakan senyawa karsinogen yang dapat menyebabkan kanker hati pada manusia dan hewan ternak yang mengkonsumsinya secara berlebihan. Oleh karena itu WHO, FAO, dan UNICEF telah menetapkan batas kandungan aflatoksin dalam makanan sumber karbohidrat yang dikonsumsi, tidak lebih dari 30 ppb (Pitt dan Hocking, 1996).
Hasil pengamatan terhadap proses penanganan jagung di tingkat petani menunjukkan bahwa penanganan pascapanen jagung masih dilakukan secara manual dengan bantuan peralatan yang sederhana. Dimana pengeringannya dilakukan dengan cara penjemuran dengan sinar matahari dan perontokan atau pemipilannya dilakukan dengan menggunakan tangan. Kondisi penanganan seperti ini sangat rentan terkena infeksi jamur yang berpotensi dalam menghasilkan aflatoksin. Keadaan ini didukung oleh iklim negara kita yang memiliki kelembaban relatif rata-rata cukup tinggi (sekitar 70-80%), sehingga sangat menguntungkan bagi tumbuhnya jamur, terutama dari jenis Aspergillus (Miskiyah dan Widaningrum, 2008).
Kerugian yang ditimbulkan sebagai akibat serangan penyakit lebih parah dibandingkan dengan serangan hama. Tinjauan secara umum dampak penyakit terletak pada akibat serangan penyakit, sedangkan untuk hama tanaman terletak pada luas serangan, walaupun dalam tempo yang sangat singkat. Pada jagung penyakit bulai yang disebabkan oleh Peronosclerospora maydis dikenal sebagai penyakit terpenting pada daerah pertanaman jagung, dapat menyerang tanaman jagung yang berumur 2-3 minggu, 3-5 minggu dan pada tanaman dewasa, selain itu ada juga penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium turcicum dan penyakit karat pada tanaman yang sudah tua yang disebabkan oleh Puccinia sorghi (AAK, 1993).
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Susunan tubuh (morfologi) tanaman jagung terdiri atas akar, batang, daun, bunga dan buah (Anonime, 2010).
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman               (AAK, 1993).
Daun jagung adalah daun sempurna Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan [helai daun] terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun (Anonimc, 2010).
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun                  (Rukmana, 1997).
Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering. Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan ketinggian antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang optimum bagi pertumbuhan tanaman jagung (AAK, 1993).
Penyakit jamur parasitik pada jagung dapat dikelompokkan menjadi penyakit daun,batang, tongkol, biji, bibit, dan akar. Salah satu jenis penyakit penting pada tanaman jagung adalah penyakit bulai (downy mildew) yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis. Penyakit bulai dapat menimbulkan gejala sistemik yang meluas ke seluruh bagian tanaman, dan dapat pula menimbulkan gejala lokal. Gejala sistemik hanya terjadi bila jamur dari daun yang terinfeksi dapat mencapai titik tumbuh, sehingga menginfeksi semua daun yang terbentuk oleh titik tumbuh tersebut. Kerugian akibat penyakit bulai pada jagung sangat bervariasi. Intensitas penularan penyakit ini dapat mencapai 90% (Semangun, 1993).
Daun yang terkena infeksi menjadi bergaris-garis putih sampai kekuningan. Pada tingkatan akhir warna daun menjadi kecoklatan dan kering. Pertumbuhan menjadi terlambat, bila yang terserang tanaman jagung yang baru saja tumbuh biasanya daun menjadi barwarna putih dan akhirnya mati. Kalau umur tanaman sudah beberapa minggu daun akan menguning dan yang baru muncul akan menjadi kaku dan kering. Tanaman ini bias menjadi kerdil dan mati dan tidak bias berbuah. Bila umur tanaman sudah kira-kira satu bulan, walaupun sudah diserang oleh cendawan ini namun masih bias tumbuh dan berbuah hanya tongkolnya tak bias besar, kelobot tidak membungkus secara penuh pada tongkol. Ujung tongkol masih kelihatan dan kadang-kadang bijinya tak penuh, ompong. Jamur menyebar dengan konidia melalui infeksi pada stomata atau lentisel. Perkembangan cendawan sangat baik pada keadaan lembab, curah hujan tinggi pemupukan N yang berat dan sifat fisik tanah yang berat. Spora disebarkan oleh angin pada cuaca kering. Konidium berkecambah paling baik pada suhu 3C (Pracaya, 2005).
Gejala visual yang menunjukkan ciri khas. Serangan Helminthosporium maydis adalah bercak agak memanjang, bagian tengah agak melebar, makin ke pinggir makin kecil, berwarna cokelat keabuan, dikelilingi oleh warna kekuningan sejajar tulang daun bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat (Anonimd, 2010).
Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Helminthosporium merupakan salah satu penyakit utama pada jagung setelah bulai. Patogen ini menular melalui udara sehingga mudah menyebar. Kehilangan hasil akibat bercak daun mencapai 59%, terutama bila penyakit menginfeksi tanaman sebelum bunga betina keluar (Tjahjadi, 1989).
C.    GULMA
Herbisida merupakan semua zat kimia yang digunakan untuk memberantas tumbuhan pengganggu. Sejak tahun 1960-an herbisida kimiawi telah digunakan hampir di seluruh dunia. Penggunaan herbisida sejauh ini memberikan dampak positif berupa pengendalian gulma dan peningkatan produk-si pertanian dan perkebunan. Namun di lain pihak, penggunaan herbisida secara terus menerus selama 30 tahun terakhir ini juga berakibat negatif bagi lingkungan. Terjadinya keracunan pada organisme nontarget, polusi sumber-sumber air dan kerusakan tanah, juga keracunan akibat residu herbisida pada produk pertanian, merupakan contoh dampak negatif penggunaan herbisida kimiawi (Genowati dan Suwahyono, 1999).
Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil maksimal manakala unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat meningkatkan hasil panen secara kuantitatif maupun kualitatif. Pemberian pupuk nitrogen merupakan kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi. Pemberian pupuk kalium dan phospat bersama-sama dengan nitrogen memberikan hasil yang lebih baik. Tanaman kekurangan unsur N akan nampak kerdil, warna daun menjadi kekuning-kuningan, buah terbentuk sebelum waktunya dan tidak sempurna. Tanaman kekurangan phospat terlihat saat tanaman masih muda, daunnya berwarna ungu dan berubah hijau kembali jika tanaman mendapatkan cukup phospat kembali. Tanaman kekurangan kalium seolah-olah layu, tepi daun menjadi kekuning-kuningan kemudian berubah menjadi kecoklat-coklatan (Biggar, 1918).
Kehadiran gulma pada lahan pertanaman jagung tidak jarang menurunkan hasil dan mutu biji. Penurunan hasil bergantung pada jenis gulma, ke- padatan, lama persaingan, dan senyawa allelopati yang dikeluarkan oleh gulma. Secara keseluruhan, kehilangan hasil yang disebabkan oleh gulma melebihi kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama dan penyakit. Meskipun demikian, kehilangan hasil akibat gulma sulit diperkirakan karena pengaruhnya tidak dapat segera diamati. Beberapa penelitian menunjukkan korelasi negatif antara bobot kering gulma dan hasil jagung, dengan penurunan hasil hingga 95% (Violic, 2000).
Gulma pada pertanaman jagung tanpa olah tanah dikendalikan dengan herbisida. Sebelum jagung ditanam, herbisida disemprotkan untuk me- matikan gulma yang tumbuh di areal pertanaman. Setelah jagung tumbuh, gulma masih perlu dikendalikan untuk melindungi tanaman. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara penyiangan dengan tangan, penggunaan alat mekanis, dan penyemprotan herbisida. Formulasi atau nama dagang her- bisida yang tersedia di pasaran cukup beragam. Pemilihan dan penggunaan herbisida bergantung pada jenis gulma di pertanaman. Penggunaan herbisida secara berlebihan akan merusak lingkungan. Untuk menekan atau meniadakan dampak negatif penggunaan herbisida terhadap lingkungan, penggunaannya perlu dibatasi dengan memadukan dengan cara pengendalian lainnya     (Fadhly dan Tabri, 2002).
Pengelompokan gulma diperlukan untuk memudahkan pengendalian, pengelompokan dapat dilakukan berdasarkan daur hidup, habitat, ekologi,klasifikasi taksonomi, dan tanggapan terhadap herbisida. Berdasarkan daur hidup dikenal gulma setahun (annual) yang hidupnya kurang dari setahun dan gulma tahunan (perennial) yang siklus hidupnya lebih dari satu tahun. Berdasarkan habitatnya dikenal gulma daratan (terrestrial) dan gulma air (aquatic) yang terbagi lagi atas gulma mengapung (floating), gulma tenggelam (submergent), dan gulma sebagian mengapung dan sebagian tenggelam (emergent). Berdasarkan ekologi dikenal gulma sawah, gulma lahan kering, gulma perkebunan, dan gulma rawa atau waduk. Berdasarkan klasifikasi taksonomi dikenal gulma monokotil, gulma dikotil, dan gulma paku-pakuan. Berdasarkan tanggapan pada herbisida, gulma dikelompok- kan atas gulma berdaun lebar (broad leaves), gulma rumputan (grasses), dan gulma teki (sedges). Pengelompokan yang terakhir ini banyak digunakan dalam pengendalian secara kimiawi menggunakan herbisida                               (Efendi dan Fadhly, 2004).
Tingkat persaingan antara tanaman dan gulma bergantung pada empat faktor, yaitu stadia pertumbuhan tanaman, kepadatan gulma, tingkat cekaman air dan hara, serta spesies gulma. Jika dibiarkan, gulma berdaun lebar dan rumputan dapat secara nyata menekan pertumbuhan dan perkembangan jagung (Melinda et al., 1998).
Secara tradisional petani mengendalikan gulma dengan pengolahan tanah konvensional dan penyiangan dengan tangan. Pengolahan tanah konvensional dilakukan dengan membajak, menyisir dan meratakan tanah, menggunakan tenaga ternak dan mesin. Untuk menghemat biaya, pada pertanaman kedua petani tidak mengolah tanah. Sebagian petani bahkan tidak mengolah tanah sama sekali. Lahan disiapkan dengan mematikan gulma menggunakan herbisida. Pada usahatani jagung yang menerapkan sistem olah tanah konservasi, pengolahan tanah banyak dikurangi, atau bahkan dihilangkan sama sekali (Utomo, 1997).
Herbisida 2,4-D digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar setahun dan tahunan, melalui akar dan daun. Aplikasinya mengakibatkan gulma berdaun lebar melengkung dan terpuntir. Senyawa 2,4-D terkonsentrasi dalam embrio muda atau jaringan meristem yang sedang tumbuh              (Klingman et al., 1975).
Herbisida pascatumbuh yang cukup luas penggunaannya untuk mengendalikan gulma pada pertanaman jagung adalah paraquat (1,1- dimethyl-4,4 bypiridinium) yang merupakan herbisida kontak nonselektif. Setelah penetrasi ke dalam daun atau bagian lain yang hijau, bila terkena sinar matahari, molekul herbisida ini bereaksi menghasilkan hidrogen peroksida yang merusak membran sel dan seluruh organ tanaman, sehingga tanaman seperti terbakar. Herbisida ini baik digunakan untuk mengendalikan gulma golongan rumputan dan berdaun lebar. Paraquat merupakan herbisida kontak dan menjadi tidak aktif bila bersentuhan dengan tanah. Paraquat tidak ditranslokasikan ke titik tumbuh, residunya tidak tertimbun dalam tanah, dan tidak diserap oleh akar tanaman (Tjitrosedirdjo et al., 1984).
Herbisida memiliki efektivitas yang beragam. Berdasarkan cara kerjanya, herbisida kontak mematikan bagian tumbuhan yang terkena herbisida, dan herbisida sistemik mematikan setelah diserap dan ditranslokasikan ke seluruh bagian gulma. Menurut jenis gulma yang dimatikan ada herbisida selektif yang mematikan gulma tertentu atau spektrum sempit, dan herbisida nonselektif yang mematikan banyak jenis gulma atau spektrum lebar (Akil et al., 2005).
Pengelolaan gulma terpadu merupakan konsep yang mengutamakan pengendalian secara alami dengan menciptakan keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan gulma dan meningkatkan daya saing tanaman terhadap gulma. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian secara terpadu: (1) pengendalian gulma secara langsung dilakukan dengan cara fisik, kimia, dan biologi, dan secara tidak langsung melalui peningkatan daya saing tanaman melalui perbaikan teknik budi daya, (2) memadukan cara-cara pengendalian tersebut, dan (3) analisis ekonomi praktek pengendalian gulma (Rizal 2004).
Gulma teki-tekian merupakan kelompok yang memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara cepat. Ciri-cirinya adalah penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga, memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris, tidak memiliki lidah daun, dan titik tumbuh tersembunyi. Kelompok ini mencakup semua anggota Cyperaceae (suku teki-tekian) yang menjadi gulma. Contoh: teki ladang (Cyperus rotundus), udelan (Cyperus kyllinga), dan Scirpus moritimus.
Gulma rumput-rumputan, merupakan gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi memiliki stolon, alih-alih umbi. Stolon ini di dalam tanah membentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik. Contoh gulma kelompok ini adalah alang-alang (Imperata cylindrica).
Gulma Rumput teki (Cyperus killinga) merupakan salah satu jenis gulma teki-tekian, memiliki ciri morfologi yaitu batang berbentuk segitiga tumpul, berdaun runcing, mempunyai bunga berwarna putih, mempunyai umbi batang yang ada di bawah permukaan tanah, mempunyai daun pada pangkal batang terdiri dari 4-20 helai, pelepah daun tertutup tanah. Helai daun bergaris dan berwarna hijau tua mengkilat dan mempunyai bunga dengan benang sari sebanyak tiga helai dan berwarna cokelat. Gulma jenis ini termasuk gulma yang cukup ganas dan penyebarannya luas. Klasifikasinya adalah divisio Magnoliophyta, kelas  Liliopsida, ordo Cyperales, famili Cyperaceae, genus Cyperus, spesies Cyperus killinga.
Teki sangat adaptif dan karena itu menjadi gulma yang sangat sulit dikendalikan. Ia membentuk umbi (sebenarnya adalah tuber, modifikasi dari batang) dan geragih (stolon) yang mampu mencapai kedalaman satu meter, sehingga mampu menghindar dari kedalaman olah tanah (30 cm). Teki menyebar di seluruh penjuru dunia, tumbuh baik bila tersedia air cukup, toleran terhadap genangan, mampu bertahan pada kondisi kekeringan. Tumbuhan ini termasuk dalam tumbuhan berfotosintesis melalui jalur C4 (Anonimb, 2010).
Echinochloa crus-galli adalah jenis rumput liar yang berasal dari Asia tropis yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai jenis Panicum rumput. Hal ini umumnya dikenal sebagai Cockspur (atau Cockspur Rumput), Common lumbung Rumput, atau hanya "rumput lumbung" (yang bisa merujuk ke setiap jenis Echinochloa atau genus Namun secara keseluruhan). Tanaman ini dapat tumbuh sampai 60 "(1,5 m) tingginya dan telah lama, daun datar yang sering keunguan di pangkalan Paling batang tegak,. namun sebagian lagi akan tersebar di atas tanah. Batang diratakan di pangkalan. Benih kepala adalah ciri khas, sering keunguan, dengan biji millet seperti besar di ramai spikelets . Dianggap sebagai salah satu gulma yang mengurangi hasil panen dan menyebabkan tanaman hijauan gagal dengan menghilangkan sampai 80% dari yang tersedia tanah nitrogen . Tingkat tinggi nitrat itu akumulasi ternak racun bisa. Bertindak sebagai tuan rumah untuk beberapa mosaic virus penyakit. infestasi berat dapat mengganggu pemanenan mekanis                 (Anonimc, 2010).
Berbagai macam gulma dari anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas-tunas pada nodusa, serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma daun lebar ini yaitu ceplukan (Physalis angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta), dan putri malu (Mimosa pudica) (Anonimc, 2010).
Kehadiran gulma pada  lahan pertanaman jagung tidak jarang menurunkan hasil  dan  mutu biji . Penurunan hasil  bergantung pada  jenis  gulma, ke- padatan, lama persaingan, dan  senyawa allelopati yang dikeluarkan  oleh gulma. Secara keseluruhan, kehilangan hasil yang disebabkan oleh gulma melebihi kehilangan hasil  yang  disebabkan  oleh  hama   dan   penyakit. Meskipun  demikian,  kehilangan  hasil akibat gulma sulit diperkirakan  karena pengaruhnya  tidak dapat segera diamati.  Beberapa penelitian  menunjukkan korelasi   negatif  antara  bobot  kering  gulma  dan  hasil  jagung,  dengan penurunan hasil hingga 95%  (Violic   2000). Jagung  yang  ditanam secara monokultur   dan  dengan  masukan rendah  tidak memberikan hasil  akibat persaingan intensif  dengan gulma                       (Clay and Aquilar ,1998).
Secara konvensional,  gulma pada  pertanaman jagung dapat dikendali- kan  melalui pengolahan tanah dan penyiangan, tetapi pengolahan tanah secara konvensional  memerlukan  waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Pada tanah dengan tekstur lempung berpasir, lempung berdebu, dan liat, jagung yang dibudidayakan  tanpa olah tanah memberikan hasil yang sama tingginya dengan yang dibudidayakan dengan pengolahan tanah konvensional (Widiyati et al,2001).
Golongan teki (Sedges). Golongan teki meliputi semua jenis gulma yang termasuk kedalam famili Cyperaceae. Golongan teki terdiri dari 4000 spesies, lebih menyukai air kecuali Cyperus rotundus L. Contoh: rumput teki, walingi, rumput sendayan, jekeng, rumput 3 segi, dan rumput knop.
Golongan berdaun lebar (Broadleaf Weeds). Golongan gulma berdaun lebar meliputi semua jenis gulma selain famili gramineae dan Cyperaceae. Golongan gulma berdaun lebar biasanya terdiri dari famili paku-pakuan (pteridophyta) dan dicotyledoneae. Contoh: Bayam duri, kremek, jengger ayam, kayu apu, wedusan, sembung dan meniran (Maspary. 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman. 2008. Teknik Budidaya Kedelai. www. wordprees.com. Diakses pada tanggal 8 Desember 2010.
Anonima. 2009. Hama pada Tanaman Jagung. http://www.agromaret.com/. Diakses tanggal 7 Desember 2010.
Anonima. 2010. Kepik. http//www.wikipedia.com/. Diakses pada tanggal 8 Desember 2010.
Ardi. 2010. Hama Belalang. http://www.mavi-net.org/. Diakses tanggal 8 Desember 2010.
Arifin, M. dan Sunihardi. 1997. Biopestisida SlNPV Untuk Mengendalikan Ulat Grayak Spodoptera litura. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 9 (5 dan 6): 3−5.
Ba Angood, S.A. and R.K. Stewart. 1980. Effect Of Granular And Foliar Insecticides On Cereal Aphids (Hemiptera) And Their Natural Enemies On Field Barley In Southwestern Quebec. Canadian Entomologist, 112: 1309-1313.
Baliadi, Y. 2009. Fluktuasi Populasi Lalat Pengorok Daun, Liriomyza sp. pada Tanaman Kedelai di Kebun Percobaan Kendalpayak dan Pengaruh Serangannya Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kedelai. Laporan Hasil Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang.
Baliadi, Y. 2010. Lalat Pengorok Daun, Liriomyza sp. (Diptera: Agromyzidae),  Hama Baru pada Tanaman Kedelai Di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, 29(1): 1-9.
Bonaro, O., A Lurette,, C Vidal, J Fargues. 2007. Modelling Temperature-Dependent Bionomics Of Bemisia tabaci (Q-biotype). Physiological Entomology,32: 50-55.
Crop Protection Compendium. 2001. CABI.
Endro, 2008. Hama Penggerek Jagung. http://www.blogger.com/. Diakses tanggal 8 Desember 2010.
Efunt. 2010. Pengamatan dan Analisis Distribusi Sebaran Belalang pada Lahan Jagung. http://z47d.wordpress.com/. Diakses tanggal 8 Desember 2010.
Harris, M. 2002. Lepidoptera. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/. Diakses tanggal 8 Desember 2010.
Hill, D. 1975. Agricultural Insect Pest of Tropics and Their Control. Cambridge University Press. London.
Johnson, M.W., E.R. Oatman, and J.A. Wyman. 1980. Effects Of Insecticides On Populations Of Vegetable Leafminer And Associated Parasites On Fall Pole Tomatoes. J. Econ. Entomol. 73: 67−71.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta.701 p.
Mau, R.F.L. and J.L.M. Kessing. 1992. Rhopalosiphum Maidis (Fitch). http://www.extento. hawaii.edu/. Diakses pada tanggal 8 Desember 2010.
McDonald, OC. 1991. Responses Of The Alien Leafminers Liriomyza trifolii and L. Hidobrensis (Diptera: Agromyzidae) To Some Pesticides Scheduled For Their Control In The UK. Crop Protect 10: 509−513.
Melhanah. 2010. Keefektifan  Pemberian Insektisida Nabati Dan  Pupuk Organik Cair  Untuk  Mengendalikan Hama Kepik  Hijau  Pada Kedelai Di Tanah Gambut. Jurusan BDP Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.
Pabbage, M.S., A.M. Adnan, dan N. Nonci. 2009. Pengelolaan Hama Prapanen Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.
Parrella, M.P. 1987. Biology of Liriomyza. Ann. Rev. Entomol. 32: 201−224.
Pramono, D. 2009. Antisipasi Ledakan Populasi Hama Ulat Grayak Pasca Musim Kemarau Panjang Di Tahun 2009 Akibat Elnino. www.sugarresearch.org. Diakses tanggal 7 Desember 2010.
Putut. 2007. Hama Tanaman. http://hamautamablogspot.com. Diakses tanggal                             7 Desember 2010.
Purnomo, A. Rauf, S. Sosromarsono, dan T. Santoso. 2003. Pengaruh Aplikasi Insektisida Profenofos Terhadap Perkembangan Populasi Lalat Pengorok Daun, Kerusakan Tanaman, Dan Parasitoid Pada Tanaman Kacang Endul Di Ciloto Jawa Barat. Agritek 11: 602−606.
Rauf, A., B.M. Shepard, and M.W. Johnson. 2000. Leafminer In Vegetables, Ornamental Plants And Weeds In Indonesia: Surveys Of Host Crops, Species Compositions And Parasitoids. Intl. J. Pest Manag. 46(4): 257−266.
Roardi, Daro R. 2009. Ordo orthoptera. http:// Roardi  daro rioardi.wordpress.com Diakses tanggal 9 Desember  2010.
Sari, I. 2010. Dasar Perlintan. http://my.opera.com/. Diakses tanggal 8 Desember 2010.
Sofyan, M. 2010. Ulat Grayak (S. Litura). www.google.com. Diakses tanggal 7 Desember 2010.
Trujillo, A.J. and M.A. Altieri. 1990. A Comparison Of Aphidophagous Arthropods On Maize Polycultures and Monocultures, In Central Mexico. Agriculture, Ecosystems & Environment, 31 (4): 337-349.
Trumble, J.T., I.P. Ting, and L. Bates. 1985. Analysis Of Physiological, Growth, And Yield Responses Of Celery To Liriomyza trifolii. Entomol. Exp. Appl. 38: 15−21.
Untung, K. 2009. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. UGM Press. Yogyakarta.
Waterhouse, D.F. 1993. The Major Arthropod Pests and Weeds Of Agriculture In Southeast Asia. The Major Arthropod Pests and Weeds Of Agriculture In Southeast Asia No. 21 (3): 141-144.
Warsito. 2004. Keanekaragaman, Kelimpahan dan Peranan Musuh Alami Lalat Pengorok daun Liriomyza huidobrensis (Blanchard) Diptera: Agromyzidae) pada Tanaman Kentang Solanum tuberosum L. Tesis, Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Akil, M., M. Rauf, I.U. Firmansyah, Syafruddin, Faesal, R. Efendi, dan A. Kamaruddin. 2005. Teknologi budi daya jagung untuk pangan dan pakan yang efisien dan berkelanjutan pada lahan marjinal. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.
Anonimb. 2010. Teki Ladang. http://wikipedia.or.id. Diakses pada tanggal 28 Mei 2010.
Anonimc. 2010. Gulma. http://wikipedia.or.id. Diakses pada tanggal 28 Mei 2010.
Biggar, H. Howard. 1918. The Old and The New in Corn Culture. Department of Agriculture. USA.
Efendi, R. dan A.F. Fadhly. 2004. Pengaruh sistem pengolahan tanah dan pemberian pupuk NPKZn terhadap pertumbuhan dan hasil jagung. Risalah Penelitian Jagung dan Serelaia Lain. Vol. 9:15-22.
Fadhly, A.F. dan T. Fahdiana. 2002. Pengendalian Gulma pada Pertanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.
Genowati, I. dan S. Utomo. 1999. Prospek Bioherbisida sebagai Alternatif Penggunaan Herbisida Kimiawi. Jurnal Tinjauan Ilmiah Riset Biologi dan Bioteknologi Pertanian. Vol. 2 (2).
Klingman, G.C., F.M. Ashton and L.J. Noordhoff. 1975. Weed Science: Principles and Practices. John Wiley & Sons. New York.
Melinda, L.H., M.D.K. Owen, and D.D. Bucher. 1998. Effects of crop and weed management on density and vertical distribution of weed seeds in soil. Agron. J. 90:793-799.
Rizal, A. 2004. Penentuan kehilangan hasil tanaman akibat gulma. Dalam: S. Tjitrosemito, A.S. Tjitrosoedirdjo, dan I. Mawardi (Eds.) Prosiding Konferensi Nasional XVI Himpunan Ilmu Gulma Indonesia. Bogor, 15-17 Juli 2003. 2: 105-118.
Tjitrosedirdjo, S., I.H. Utomo dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Badan Penerbit Kerjasama Biotrop Bogor dan Gramedia. Bogor.
Utomo, M. 1997. Teknologi terapan yang efektif dan efisien melalui sistem olah tanah berkelanjutan untuk tanaman jagung di lahan kering. Makalah Disampaikan pada Pertemuan Upaya Khusus Pengembangan Jagung Hibrida. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Ujung Padang.
Violic, A.D. 2000. Integrated crop menagement. In: R.L. Paliwal, G. Granados, H.R. Lafitte, A.D. Violic, and J.P. Marathee (Eds.). Tropical Maize Improvement and Production. FOA Plant Production and Protection Series, Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome, 28:237-282
Clay, A.S. and I. Aquilar.  1998. Weed  seedbanks and corn growth  following continous corn or alfalfa.  Agron.  J. 90:813-818.
Widiyati,  N., A.F. Fadhly,  R. Amir,  dan E.O. Momuat.  2001. Sistem  pengolahan tanah  dan  efisiensi pemberian pupuk  NPK  terhadap   petumbuhan dan hasil jagung. Risalah Penelitian  Jagung dan Serealia  Lain.  5:15-20.
Maspary. 2010. Penggolongan Gulma Tanaman. http://gerbangtani.blogspot.com/2010/05/penggolongan-gulma-tanaman.html. diakses pada tanggal 09 Desember 2010 06:5
AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius. Yogyakarta.
Anonime. 2010. Botani Jagung. Http://Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.htm/ ( 8 Des 2010).
Anonimc. 2010. Hama dan Penyakit Tanaman Jagung. http://www.ideelok.com /budidaya-tanaman/jagung/page-2. Diakses tanggal 8 Desember 2010.
Anonimd, 2010. Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Bercak Daun Helminthosporium sp. Pada Tanaman Jagung. Jurnal Litbang Pertanian. Syahrir pakki (170106)_pmd.htm (8 Des 2010).
Miskiyah dan Widaningrum. 2008. Pengendalian Aflatoksin pada Pascapanen Jagung Melalui Penerapan Haccp. Jurnal Standardisasi .10(1) :1 – 10..
Pitt, J.I. and A.D. Hocking, 1996. Fungi and Food Spoilage. Blackie Academic and Professional. London.
Pracaya, 2005.  Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swdaya. Jakarta Rukmana, R., 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar