sapaan

ASSALAMMUALLAIKUM

SELAMAT MENIKMATI

Jumat, 18 November 2011

Nematoda sista kuning

Globodera rostochiensis






 1.Taksonomi
Globodera rostochiensis pada akar kentang
(Wiki, 2011)

                                    Kerajaan          : Animalia
                                    Filum               : Nematoda
                                    Kelas               : Secernentea
                                    Subclass          : Diplogasteria
                                    Ordo                : Tylenchida
                                    Famili              : Heteroderidae
                                    Subfamili         : Heteroderinae
                                    Genus              : Globodera
                                    Spesies            : Globodera rostochiensis
                                    (Wiki, 2011)


Nematoda parasit ini termasuk famili Heteroderidae. Ada 2 (dua) genus yang terkenal yaitu Heterodera dan Globodera. Beberapa spesies yang termasuk genus Heterodera yaitu : Heterodera avanae (nematoda sista serealia), H. glycines (nematoda sista kedelai) dan H. schachtii (nematoda sista gula bit), sedangkan spesies yang termasuk genus Globodera diketahui ada 14 spesies masing-masing memiliki inang spesifik. Nematoda sista kentang ada dua spesies yang hampir sama yaitu Globodera rostochiensis (Wolienweber) Mulvey & Stone dan G. pallida Stone yang pada awalnya diidentifikasi sama. Spesies Globodera rostochiensis atau yang dikenal sebagai Nematoda Sista Kuning (NSK, Golden Cyst Nematode) dan G. pallida (nematoda sista kuning berwarna putih). (Anonim, 2003)                                                                                             
2.  Morfologi
Nematoda sista kuning termasuk genus Globodera, yang mempunyai spesialisasi dan sukses menjadi nematoda parasit tanaman sebagai hama pada tanaman pertanian. Jenis/spesies ini ditemukan dalam jaringan akar dalam keadaan sudah berubah bentuk dari cacing menjadi membulat (seperti bentuk botol)(Gambar 2 A). (Anonim, 2003).
Sebagian besar spesies Globodera sudah membentuk sista menempel dengan bagian anterior tubuhnya menyusup dalam korteks, sedangkan bagian posteriornya di luar jaringan akar (semi endoparasit). Bentuk sista membulat (globular atau spheroid), warnanya sebagian besar kuning emas, sebagian lagi putih dan kuning tua sampai coklat. Nematoda sista kuning berukuran kecil, secara alami berada didalam dan bercampur dengan masa tanah yang luas, dan mempunyai keahlian yang ekstrim untuk berkumpul dan menemukan inangnya. Dia juga dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama dalam tanah tanpa tanaman inang yang cocok.
           Gambar 2 A.
Sista NSK berbentuk seperti botol yang
Menempel Pada akar
(Anonim, 2003)

Berdasarkan hasil penelitian pada Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 9 no 1, 2003 hal :46-53 dapat diketahui morfologis G. rostochiensis dibawah ini.
1.    Betina: betina Globodera rostochiensis bentuk kista, yang merupakan badan nematoda betina mati, yang melindungi telur.. Tubuh bulat, bulat, dengan leher pendek dan tidak ada kerucut terminal.
2.    Jantan:tubuh dipelintir menjadi C atau S bentuk. Berbentuk ulat lapangan Lateral empat baris. dengan Spicule s lebih besar dari 30 pM panjangnya, distal runcing.. Tidak kloaka l tubus. Ekor pendek, hemispherical.
3.    Tahap kedua remaja: stylet kurang dari 30 pM panjang. Lateral lapangan dengan empat baris. kelenjar Terserang mengisi rongga tubuh. Tail kerucut, menunjuk, dengan setengah hialin terminal. Phasmids punctiform.
a. Telur
   Terlur berbentuk oval, massa telur berada di dalam tubuh betina yang telah dibuahi menjadi sista. (gambar 2 B.). Ukuran panjang telur antara 98-109 µm dengan rata-rata 105 µm. sedangkan lebar antara 50-59 µm dengan rata-rata 54,6 µm 
b. Larva stadia dua
Ketika masih di dalam telur pada umumnya tubuh larva melipat menjadi empat lipatan. Larva berbentuk cacing, bentuk ekor makin ke ujung makin mengecil (Gambar 3 b dan 4 b.). Kepala sedikit offset (bagian kepala dengan bagian tubuh dibelakang kepala dipisahkan suatu lekukan pada kutikula). Stinlet tipe stomatosilet dan berkembang dengan baik. Knob stilet (pangkal stilet) berbentuk membulat. Panjang tubuh total antara 531-563 µm dengan rata-rata 548,4 µm, sedang lebar tubuh maksimum antara 22-26 µm dengan rata-rata 23,6  µm. Panjang kepala antara 4-6 µm dengan rata-rata 5,2 µm sedang lebar tubuh pada pangkal kepala antara 11-12 µm dengan rata-rata 11,6 µm. Panjamh stinlet antara 21-33 µm dengan rata-rata 25,2 µm.  

Gambar 2 b. Sista Globodera rostochiensis yang telah pecah (a),                            berisi massa telur (b), dan larva stadia dua (c).
Gambar 3b. Bagian anterior larva G. rostochiensis stadia dua dengan knob stilet membulat (a)
Gambar 4b. Bagian posterior larva G. rostochiensis stadia dua, tampak ekor makin keujung makin mengecil (a) dan tampak bagian yang hialin (b)
3. Biologi
    a. Penyebaran
Berdasarkan Tuner, S.J. dan K. Evan (1998) dan daftar dari EPPO (1994) kedua spesies NSK ini telah menyebar di beberapa negara di Eropa (Austria, Balarus, Belgia, Bulgaria, Cekoslowakia, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Swiss, Hungaria, Iceland, Italia, Latvia, Lituania, Luxemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Rusia, Spanyol, Swedia, Switzelan, Ukraina dan Inggris), Asia (Cyprus, India, Jepang, Libanon, Malaysia, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, dan Tajekistan), Afrika (Algeria, Mesir, Libia, Maroko, Siera Leona, Afrika Selatan, dan Tunisia), Amerika Utara (Kanada, Meksiko, dan USA), Amerika Tengah (Kostarika dan Panama), Amerika Selatan (Agentina, Bolivia, Chili, Kolumbia, Ekuador, Peru, dan Venezuela) dan Ocionea (Australia, New Zealand dan Norfolk Island).
Serangan NSK pertama kali ditemukan di Indonesia berdasarkan pemantauan Direktorat Perlindungan Hortikultura dan Direktorat Perbenihan Hortikultura pada bulan Maret 2003. Awalnya dilaporkan menyerang tanaman kentang (varietas Granola) di dusun Sumber Brantas, Desa Tulung Rejo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Propinsi Jawa Timur. Luas tanaman terserang diperkirakan mencapai 25% dari luas tanaman kentang yang seluruhnya seluas 800 hektar. Gejala tersebut telah dirasakan sejak tahun sebelumnya. Benih kentang yang ditanam tahun 2002 dilaporkan berasal dari Jerman, tetapi para petani sudah menanam benih impor sejak tahun 1986 (Ditlinhor, 2003).
Hasil survey Mulyadi dkk. (2003) menunjukan padat populasi sista dalam tanah pada ketinggian tempat dan kondisi tanaman disajikan pada Tabel 1. Satosi AIBA dari National Agricultural Research Center, Japan pada tanggal 5 – 21 Agustus 2003 juga melakukan survey di beberapa sentra tanaman kentang di Indonesia (Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat). Dia mengambil contoh tanah pada kedalaman 5 – 15 cm sebanyak 5 (lima) titik pada 1 (satu) lahan (di Sumatera Utara hanya 3 titik). Isolasi sista dari contoh tanah dilakukan dengan metode Pengambangan – Penyaringan, dengan rata-rata 2 kali pengulangan. Rata-rata populasi sista yang ditemukan pada survey tersebut disajikan pada Tabel 2.
       Tabel 1. Populasi sista dalam tanah.
Lokasi
Tinggi tempat
(m) d.p.l.
Kondisi tanaman
Populasi sista
per 20 g tanah
Brakseng
1700 - 1800
- daun menguning
- umur ± 80 hari
107,30
Brakseng
1700 - 1800
- daun masih hijau
- umur ± 50 hari
21,67
Tunggangan
1600 - 1700
- masa panen
23,67
Kembangan
1600 - 1700
- masa panen
12,00
Junggo
± 1200
- daun hijau
- umur ± 50 hari
13,33

b. Inang (host)
            Tanaman komersial yang diserang dan menjadi inang utama adalah kentang (Solanum tuberosum), tomat (Lycopersicon esculentum), dan terung (S.melongena). Di samping itu, dilaporkan terdapat tanaman inang lainnya, yaitu S. dulcamara (bitter nightshade), S. rostratum (buffalo bur), S. triflorum (cutleaf nightshade), S. elaeagnifolium (silverleaf nightshade), S. blodgettii, S. xanti (purple nightshade), dan S. integrifolium (tomato eggplant). Pemulia tanaman juga menemukan 90 spesies Solanum di Amerika Selatan yang menjadi inang NSK.
Beberapa spesies gulma juga dapat menjadi inang NSK. Hasil pemantauan di Malang, Jawa Timur, beberapa spesies gulma dari famili solanaceae yaitu Datura stramonium, Nicandra physaloides, dan spesies-spesies lain yang berasosiasi dengan tanaman kentang, perlu diwaspadai sebagai inang alternatifnya (Widjaya, 2003).
c. Siklus Hidup
Siklus hidupnya melalui tahapan stadium telur, larva, dan dewasa berlangsung selama 38 - 48 hari. Daur hidup antara 5-7 minggu tergantung kondisi lingkungan (Gambar 3 A). Produksi telur 200-500 butir. Kemampuan hidup di dalam tanah pada kondisi lingkungan kurang menguntungkan (tidak ada inang, suhu sangat rendah atau sangat tinggi dan kekeringan) dapat membentuk sista yang dapat bertahan hidup sampai 10 tahun (Taylor, 1953 dalam Hamzah, A., 2003). Sista berisi telur yang belum menetas dengan kisaran jumlah telur dalam sista 326 – 493 dari 10 sista yang dipecahkan (Soeganda, A.W.W., 2003).
Nematoda aktif kembali setelah kondisi lingkungan sesuai, terutama adanya eksudat akar tanaman inang. Larva stadium dua aktif pada suhu 10C. Kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembang biakannya antara 15 - 21C.oo Kisaran pH yang dapat ditoleransi sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman kentang. Sejak introduksi sampai ”establish” pada tingkat yang dapat dideteksi di areal yang sudah terinfeksi keberadaannya secara permanen diperlukan waktu 7-8 tahun. Pada awal infeksi gejala serangan pada tanaman belum terlihat, setelah mencapai populasi “tertentu” akan tampak. Berdasarkan hasil penelitian di Jepang, jumlah populasi awal G. rostochiensis yang dapat menimbulkan kerugian adalah 31 sista hidup per 100 gram tanah (Inagaki et.al., 1973, Vide Barker and Olthof, 1976 dalam Soeganda, A.W.W., 2003).
Sejak introduksi sampai ”establish” pada tingkat yang dapat dideteksi di areal yang sudah terinfeksi keberadaannya secara permanen diperlukan waktu 7-8 tahun. Pada awal infeksi gejala serangan pada tanaman belum terlihat, setelah mencapai populasi “tertentu” akan tampak. Berdasarkan hasil penelitian di Jepang, jumlah populasi awal G. rostochiensis yang dapat menimbulkan kerugian adalah 31 sista hidup per 100 gram tanah (Inagaki et.al., 1973, Vide Barker and Olthof, 1976 dalam Soeganda, A.W.W., 2003).



Gambar 3 A .Siklus hidup NSK Sumber :Hague, 1970

d. Gejala
        Tanaman kentang yang terserang NSK ( Nematoda Sista Kuning) daun-daunnya menguning lebih awal, lalu kering dan akhirnya mati karena perakaran terganggu. Jika tanaman tersebut masih dapat bertahan hidup dan dapat menghasilkan umbi maka umbinya berukuran kecil dan jumlahnya sedikit. Gejala serangan NSK dalam areal pertanaman kentang akan terlihat tanaman menguning tidak merata. Penurunan produksi akibat serangan NSK dapat mencapai 70% (Ditlinhor, 2003).
 Gejala pertama dari infestasi miskin biasanya pertumbuhan tanaman, klorosis , dan layu. infestasi berat dapat menyebabkan sistem akar berkurang, stres air, dan kekurangan gizi, sedangkan efek tidak langsung dari suatu infestasi termasuk dini penuaan dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi jamur. (Wiki, 2011)
G. rostochiensis mempengaruhi pertumbuhan kentang (Akar tanaman menunjukkan menit terinfeksi, badan putih, yang merupakan perempuan dewasa yang telah meletus melalui epidermis akar. Pada kepadatan nematoda sangat tinggi, umbi-umbian dapat menjadi terinfeksi, mengakibatkan munculnya kista pada permukaannya. (Wiki, 2011)
Pada tingkat rendah, kentang nematoda kista melakukan kerusakan kecil, tapi setelah bertahun-tahun berulang kentang budaya, kista nematoda ini dapat meningkat dalam jumlah seperti untuk membatasi produksi. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, hasil mungkin kurang dari buah bibit yang ditanam. Lapangan gejala infestasi berat sama antara-membentuk kista nematoda; pertama mereka mendorong pertumbuhan miskin di tempat, diikuti oleh kenaikan dalam ukuran dan jumlah titik. Kerusakan dengan sistem akar biasanya dikaitkan dengan layu tanaman dan pendek. Tomato Tomat tanaman ini gejala yang mirip dengan kentang mengharapkan bahwa akar mungkin memiliki sedikit bengkak. (Tarte, R. (1979)

 
Gambar akar tanaman yang diserang
(Wiki, 2011)
   Gambar gejala pada daun akibat G. rostochiensis
                         (Wiki, 2011)
e. Kerugian Ekonomi
          Keberadaan G. rostochiensis ini sangat merugikan budidaya tanaman kentang, karena merupakan parasit penting pada tanaman kentang yang mempunyai daya merusaknya sangat tinggi sehingga dapat menurunkan produksi sampai 70 %. Kerugian yang diderita bervariasi bergantung kepada populasi larva yang terdapat dalam tanah sekitar perakaran. Hasil penelitian di luar negeri menyatakan bahwa pada tingkat populasi 20 telur NSK/g tanah dapat mengurangi hasil umbi sekitar 2,75 ton/ha, pada populasi telur yang cukup tinggi kerugian bisa mencapai 22ton/ha. Di Indonesia berdasarkan hasil survey dibeberapa lokasi pertanaman kentang di 4 provinsi yang terserang, kerugian yang dialami petani dapat mencapai 32-71% (Mulyadi, 2003)
4. Pengelolaan
Berdasarkan hasil penelitian yang dirangkum oleh Sethi dan Gaur (1990), lahan pertanaman kentang yang sudah terserang oleh G. rostochiensis yang dirotasi dengan tanaman kentang varietas tahan atau tanaman lain yang bukan inang NSK di US selama dua tahun dapat menurunkan populasi sista sangat rendah. Di USRR rotasi tanaman salama 3-4 tahun dapat menekan NSK sampai 98%, di India dapat menekan sampai 80% (Soeganda, A.W.W., 2003).
a. Pengendalian dengan Peraturan
Bila NSK memasuki suatu area pertanaman kentang, akan relatif sulit untuk mengatasinya, oleh karena itu pengendalian dengan peraturan perlu ditempuh. Pengendalian dengan peraturan dilakukan dalam rangka mencegah OPT masuk, menyebar dan berkembang. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi surveillance, dan menentukan tindakan karantina serta eradikasi.Beberapa tindakan pengaturan yang dapat disarankan :
  1. Membatasi ijin impor benih kentang dari negara tertular dalam jumlah kecil untuk tujuan pengembangan varietas baru dengan ketentuan karantina yang ketat.
  2. Impor hanya benih kentang yang dijamin sertifikasi kesehatannya (phytosanitary) dari negara asal benih dengan pernyataan bebas dari OPTK dan area asal benih di tanaman bebas dari infestasi NSK dan bersih dari kontaminasi tanah, dan bekas tumbuhan lain.
  3. Impor umbi kentang untuk konsumsi dari negara tertular harus dicuci, diberi perlakuan benih (seed treatment) seperti perlakuan benih dengan 1% Sodium hypochlorite dan pencucian dengan air panas dan pengeringan
  4. Pelarangan peredaran benih tanpa sertifikat bebas nematoda dari daerah terserang ke daerah bebas terserang
  5. Keharusan perlakuan benih (fumigasi, perendaman desinfektan, dsb) dan kentang konsumsi di daerah terserang
  6. Pelarangan membawa tanah, bahan tanaman dan media pembawa lain dari daerah terserang ke daerah belum terserang
        (Sumber :Hamzah, Amir, 2003 )
b. Pratanam (preplanting)
1)      Pemilihan calon lahan kentang yang bebas atau populasi awal NSK-nya di bawah 31 sista hidup per 100 gr tanah.
2)      Sanitasi kebun : lahan calon kentang dicangkul sedalam tanah olah (30 cm), bongkahan tanah dihancurkan, semua perakaran diangkat dan dibakar. Pekerjaan tersebut dilakukan 2 atau 3 kali dan tanah dibiarkan terkena sinar matahari. Selain itu penyiangan terhadap gulma harus dilakukan sebersih mungkin terutama dari keluarga Solanaceae.
3)      Pemilihan bibit bebas penyakit yang terbawa tanah (soil borne disease) dan berasal dari pembibitan yang berasal dari daerah serangan NSK, dan menanam varietas/ kultivar yang diketahui tahan/toleran terhadap NSK, seperti Marion, Culpa, Elvira, Gitte, Vevi, Aula, Filli, Granola, Miranda, Renema dan Alexa, Cordia, Herold, Pirola, Dextra.
4)      Pengolahan tanah yang baik disertai dengan sanitasi kebun dari sumber-sumber inokulum NSK. Pengolahan tanah dilakukan sedemikian rupa sehingga bongkah-bongkah tanah terpecah, NSK terekspos keluar dari pori-pori tanah, terkena sinar matahari ataupun lebih mudah nantinya dikendalikan dengan taktik-taktik lainnya :
5)      Rotasi tanaman : menanam jenis tanaman yang tahan dan atau bukan inang NSK, digilirkan dengan tanaman pokok, yaitu kentang, sehingga diharapkan jumlah populasi awal NSK sangat rendah pada waktu kentang ditanam. Tanaman rotasi harus diusahakan yang memiliki manfaat, baik langsung maupun tidak langsung.
6)      Penanaman varietas toleran, misalnya Marion, Culva, Elvira, Gitte, Vevi, Aula, Villi tahan terhadap NSK biotipe A, sedangkan Cordia tercatat tahan terhadap NSK biotipe A dan B. Penelitian lain mencatat bahwa varietas Granola, Miranda, Renema, dan Aalexa tahan terhadap NSK biotipe A. Selain itu varietas Herold, Pirola
(Sumber : Hamzah, Amir, 2003)
c. Pertanaman
Pada periode pertanaman diupayakan penerapan prinsip-prinsip budidaya tanaman sehat, yaitu penggunaan pupuk sesuai rekomendasi, pencabutan tanaman sakit (roguing), dan pengamatan/pemantauan teratur serta penerapan teknik/cara pengendalian yang tepat.
d. Nematisida Fumigan
Fumigasi dengan metil bromida efektif untuk mematikan semua stadium nematoda. Metil bromida termasuk pestisida terbatas, oleh karena itu peng-gunaannya hanya boleh dilakukan oleh operator yang terlatih dan bersertifikat, menggunakan cara dan peralatan khusus. Untuk keperluan ini perlu izin Menteri Pertanian melalui Komisi Pestisida.
e. Non Fumigan
Nematisida yang terdaftar dan diizinkan untuk NSK belum ada, namun demikian sementara dapat digunakan nematisida yang diizinkan untuk Meloidogyne sp. pada tomat atau kentang, misalnya karbofuran (Furadan 3 G, Petrofur 3 G) etoprofos (Rhocap 10 G), kadusafos (Rugby 10 G), azadirachtin (Nosfoil 8 EC).
                                                                        (Sumber : Hamzah, Amir 2003)
5. Opini
       Pengendalian Globodera rostochiensis bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami ataupun dengan menggunakan bahan-bahan alami dari tanaman. Sehingga secara alami dapat mengurangi populasi dari Globodera rostochiensis tanpa merusak lingkungan. Misalnya dengan menggunakan Beberapa cendawan diketahui mampu memarasit telur dan induk nematoda seperti Verticillium chlamydosporum, Cylindrocarpon destructans, Acremonium strictum.Dan menurut saya bisa juga dilakukan penyisipan gen pada tanaman inang dari nematode tersebut agar tanaman tahan terhadap serangan dari nematode tersebut.
6. Resume
       Globodera rostochiensis diketahui ada 14 spesies masing-masing memiliki inang spesifik. Nematoda sista kuning termasuk genus Globodera, yang mempunyai spesialisasi dan sukses menjadi nematoda parasit tanaman sebagai hama pada tanaman pertanian. Nematoda sista kuning berukuran kecil, secara alami berada didalam dan bercampur dengan masa tanah yang luas, dan mempunyai keahlian yang ekstrim untuk berkumpul dan menemukan inangnya betina Globodera rostochiensis bentuk kista, yang merupakan badan nematoda betina mati, yang melindungi telur.. Tubuh bulat, bulat, dengan leher pendek dan tidak ada kerucut terminal. Jantan Globodera rostochiensis tubuh dipelintir menjadi C atau S bentuk. Berbentuk ulat lapangan Lateral empat baris. dengan Spicule s lebih besar dari 30 pM panjangnya, distal runcing.. Tidak kloaka l tubus. Ekor pendek, hemispherical.
Globodera rostochiensis ini telah menyebar di beberapa negara di Eropa (Austria, Balarus, Belgia, Bulgaria, Cekoslowakia, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Swiss, Hungaria, Iceland, Italia, Latvia, Lituania, Luxemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Rusia, Spanyol, Swedia, Switzelan, Ukraina dan Inggris), Asia (Cyprus, India, Jepang, Libanon, Malaysia, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, dan Tajekistan), Afrika (Algeria, Mesir, Libia, Maroko, Siera Leona, Afrika Selatan, dan Tunisia), Amerika Utara (Kanada, Meksiko, dan USA), Amerika Tengah (Kostarika dan Panama), Amerika Selatan (Agentina, Bolivia, Chili, Kolumbia, Ekuador, Peru, dan Venezuela) dan Ocionea (Australia, New Zealand dan Norfolk Island).
     Tanaman komersial yang diserang dan menjadi inang utama adalah kentang (Solanum tuberosum), tomat (Lycopersicon esculentum), dan terung (S.melongena). Di samping itu, dilaporkan terdapat tanaman inang lainnya, yaitu S. dulcamara (bitter nightshade), S. rostratum (buffalo bur), S. triflorum (cutleaf nightshade), S. elaeagnifolium (silverleaf nightshade), S. blodgettii, S. xanti (purple nightshade), dan S. integrifolium (tomato eggplant).
Siklus hidupnya melalui tahapan stadium telur, larva, dan dewasa berlangsung selama 38 - 48 hari. Daur hidup antara 5-7 minggu tergantung kondisi lingkungan (Gambar 3 A). Produksi telur 200-500 butir. Kemampuan hidup di dalam tanah pada kondisi lingkungan kurang menguntungkan (tidak ada inang, suhu sangat rendah atau sangat tinggi dan kekeringan) dapat membentuk sista yang dapat bertahan hidup sampai 10 tahun (Taylor, 1953 dalam Hamzah, A., 2003).
Tanaman kentang yang terserang NSK ( Nematoda Sista Kuning) daun-daunnya menguning lebih awal, lalu kering dan akhirnya mati karena perakaran terganggu. Jika tanaman tersebut masih dapat bertahan hidup dan dapat menghasilkan umbi maka umbinya berukuran kecil dan jumlahnya sedikit.  Keberadaan G. rostochiensis ini sangat merugikan budidaya tanaman kentang, karena merupakan parasit penting pada tanaman kentang yang mempunyai daya merusaknya sangat tinggi sehingga dapat menurunkan produksi sampai 70 %. Pengendalian dilakukan dengan peraturan karantina, pengelolaan pratanam dan pertanaman yang baik, dengan pengendalian hayati menggunakan musuh alami yang memarasit telur nematode tersebut dan dengan nematisida fumigan.
  
7. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003. PENGENALAN DAN PENGENDALIAN NEMATODA SISTA KUNING Globodera rostochiensis Wollienweber. Direktorat Perlindungan Hortikultura. Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura dan Japan International Coorporation Agency. Edisi Revisi. Diakses tanggal 2 Juni 2011
Duriat, Ati Srie, Thomas Agoes Sutiarso, Laksminiwati Prabaningrum dan Rakhmat Sutarya, 1994. Penerapan Pengendalian Hama-Penyakit Terpadu Pada Budidaya Kentang. Balai Penelitian Hortikultura Lembang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Hamzah, Amir, 2003. Program Tindakan Darurat Penyebaran OPT Karantina, Globodera rostochiensis (Wolienweber) Mulvey & Stone. Makalah Seminar Sehari Penaggulangan Nematoda Globodera sp. Pada Tanaman Kentang. Jakarta, 3 April 2003.
Mulyadi, Bambang Tahayu TP, B. Triman, Siwi Indarti, 2003. Identifikasi Dan Bioekologi Globodera rostochiensis. Handout Seminar Sehari Penaggulangan Nematoda Globodera sp. Pada Tanaman Kentang. Jakarta, 3 April 2003. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 9 no 1, 2003 hal :46-53
Subijanto, 1985. Constraint On And Opportunite In The Production Of Vegetables In Indonesia. Central Research Institute for Horticulture, Pasarminggu, Jakarta. Dalam Production Of Vegetables In The Tropics And Sub-Tropicks. Proceeding of the 23th Internaional Symposium on Tropical Agriculture Research. Tsu, Japan, September 20-22, 1989. Tropical Agriculture Research Series (TARC) No. 23, March 1990. p. 37.
Soeganda, A.W.W., 2003. Pengendalian Terpadu Nematoda Sista Emas (Globodera rostochiensis) Pada Tanaman Kentang. Makalah Seminar Sehari Penaggulangan Nematoda Globodera sp. Pada Tanaman Kentang. Jakarta, 3 April 2003.
Wikipedia. Globodera rostochiensis. Htt:/www.wikipedia. Globodera rostochiensis.20/1/2011.html. diakses tanggal 2 Juni 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar